El Nido, Sebuah Surga di Palawan

Hamparan laut biru jernih sejernih kristal ditambah dengan langit biru tanpa awan serta gugusan bukit batuan karst menjadikan El Nido layaknya surga di samudera

Dengan menggunakan perahu bercadik yang sederhana, kami mengarungi lautan di tengah-tengah bukit kapur dengan batuan karst yang menjulang tinggi. Selain daripada itu warna kehijauan dari barisan hutan yang menongol dari retakan tebing tidak kalah memanjakan mata. Inilah kepulauan bacuit di El Nido, Pulau Palawan, Filipina.

El nido berlokasi diujung barat laut provinsi Palawan Filipina, terletak disekitar 430 kilometer barat daya Manila dan sekitar 238 kilometer barat laut Puerto Princesa, Ibu Kota Palawan. El Nido berbatasan dengan Selat Linapacan di utara, Laut Sulu di sebelah timur, dan Laut Cina Selatan di sebelah barat. Kota El Nido terdiri dari 18 barangay (desa) yang mencakup tanah seluas 50.000 hektar dan berpopulasi sekitar 27.000 orang, yang mana merupakan campuran dari Palaweños asli, dengan orang-orang pendatang dari bagian lain Filipina.

Pesawat Airphill Express yang membawa saya dari Clark akhirnya mendarat mulus di Bandara Puerto Princesa, penerbangan dari Clark memakan waktu sekitar 50 menit, Bandara Puerto Princesa bukanlah bandara yang besar hanya terdiri dari terminal kedatangan dan terminal keberangkatan begitu keluar dari terminal kita akan di sambut oleh supir tuk-tuk yang akan membawa kita ke kota Puerto Princesa yang juga tidak terlalu besar, mereka berbaris rapi menunggu sesuai antrian. Selain pengemudia tuk-tuk yang menawarkan jasa tidak ketinggalan pula perusahaan travel yang menawarkan paket petualangan di Puerto Princesa.

Setelah selesai mengambil bagasi dari Airphill Express saya segera beranjak keluar bandara untuk mencari tumpangan ke kota, kebetulan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan telah memesan kamar di Dallas Inn, penginapan ini tidak terlalu jauh dari bandara, hanya sekitar 10 menit menumpang tuk-tuk maka akan sampai ke lokasi. Sambil berbincang dengan supir tuk-tuk dia menanyakan tujuan hendak kemana ? saya menjelaskan bahwa akan pergi ke El Nido, tiba-tiba dia mengatakan kenapa tidak coba sewa motor dan membawa pergi sendiri ke El Nido ? waktu akan lebih fleksible dan juga bisa singgah ke banyak tempat. Kemudian dia memperkenalkan saya kepada temannya yang usaha sewa motor.

Honda XRM 125 cc

Sesampainya di Dallas Inn, disambut oleh pemiliknya dengan sangat ramah dia memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang Puerto Princesa, setelah proses check in selesai saya bertanya kepada Oring tentang tour Underground River yang telah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya, ternyata walaupun sudah memesan jauh-jauh hari bukan satu kepastian akan mendapat kesempatan tersebut. Underground River merupakan kandidat 7 keajaiban dunia, sungai yang berada di bawah tanah dan kita akan dibawa menggunakan perahu menyusuri sungai dibawah tanah tersebut selama 15 menit. Karena sudah tidak ada kesempatan akhirnya saya menyatakan keinginan untuk ke El Nido menggunakan sepeda motor, langsung dengan sigap dia menyetujui langkah tersebut dan dengan bangga menceritakan keindahan sepanjang jalan dari Puerto ke El Nido. Akhirnya bulat juga keputusan untuk touring menggunakan sepeda motor dari Puerto Princesa ke El Nido

Dallas Inn

Kendaraan akhirnya didapat dengan harga 460 peso, walaupun bukan harga yang murah karena jika bukan peak season dapat disewa dengan harga 350 peso. Akhirnya petualangan dapat dimulai. Setelah semua urusan selesai, hari pertama dihabiskan dengan mengelilingi kota Puerto Princesa.

Ada beberapa tempat yang dapat di kunjungi di sana, salah satunya adalah Baker’s Hill. Baker’s Hill terletak di pinggiran kota Puerto Princesa, sekitar 30 menit perjalanan. Terletak diatas bukit menjadikan tempat ini merupakan favorit bagi anak-anak sekolah dan ABG untuk mengunjunginya.

Sesuai dengan nama tempatnya, teman-teman semua pasti udah pada tau tempat ini menyediakan aneka macam roti, tempat yang di desain mirip seperti taman bermain pibadi ini terdiri dari villa tempat tinggal pemiliknya, kebun binatang mini, aneka dekorasi seperti layaknya Disney Land hingga taman bermain untuk anak-anak menjadikan tempat ini sangat rame.

Baker’s Hill
Taman di Baker’s Hill

Sayangnya mendung bergantungan di langit Puerto Princesa sore itu, sehingga perjalanan selanjutnya ke Mitra Ranch tidak dapat dilanjutkan dan memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat mengingat perjalanan panjang besok hari yang harus di tempuh.

ELNIDO I’M COMING

Gelapnya malam akhirnya digantikan oleh terang mentari pagi hari, ya pagi telah datang berarti perjalanan panjang sebentar lagi akan di mulai, tidak terasa setelah berbenah dan menitipkan tas ke pemilik penginapan, secangkir kopi panas menjadi teman untuk memulai perjalanan pagi hari itu, penghuni kamar yang lain belum ada yang nampak, suasana sepi dan hening menjadikan pagi ini terasa ringan untuk melangkah keluar.

Tepat pukul 07.00 akhirnya saya minta izin kepada pemilik penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke El Nido, setelah berpesan untuk tetap hati-hati di jalan akhirnya motor Honda XRM 125 cc saya arahkan ke Puerto Princesa North Highway Road jalur jalan raya utama yang menghubungkan Puerto Princesa dengan El Nido. Perjalanan selama 9 jam mengendarai sepeda motor merupakan petualangan yang melengkapi perjalanan kali ini.

Berbekal 2 botol air mineral 600 ml berharap ada tempat makan yang bisa disinggahi selama perjalanan ke El Nido, ternyata harapan tersebut hanya sebatas angan-angan. 1 jam, 2 jam, 3 jam hingga 4 jam tidak menemukan 1 tempatpun rumah makan yang cukup representative kuliner yang manusiawi bagi traveler asing. Setelah melewati kota Roxas akhirnya memutuskan untuk melaju terus ke El Nido tanpa istirahat sarapan dan makan siang dengan harapan sebelum pukul 17.00 saya sudah bisa mencapai El Nido. Selain masalah perut ternyata masi ada masalah lain yaitu ketersediaan SPBU untuk pengisian bahan bakar juga ternyata sangat sangat terbatas, akhirnya merelakan peso-peso saya di kuras oleh penduduk lokal yang menjajakan minyak dalam botol (persis seperti Indonesia)

on my way to el Nido

Ketika memutuskan touring menggunakan sepeda motor, satu hal yang benar-benar terlepas dari rasa ingin tahu saya adalah harga BBM di Filipina, ternyata ketika hendak mengisi BBM di SPBU sempat shock dengan harga yang tertera di mesin yaitu 54.90 PHP atau sekitar Rp 12.800, sedangkan pengisian BBM eceran di pinggir jalan adalah 70 PHP atau sekitar Rp. 16.500,- bandingkan dengan Indonesia tentu harga minyak di Filipina termasuk sangat mahal. Total biaya untuk mengisi bahan bakar sekali perjalanan dari Puerto Princesa ke El Nido adalah sebesar 470 PHP. Untungnya saya menggunakan motor Honda XRM 125 cc yang lumayan irit bahan bakar.

Selepas dari Taytay (kota terakhir sebelum El Nido) jalanan mulai terasa seperti roller coaster karena sedang tahap pembangunan, satu hal yang patut di contoh adalah seluruh jaringan jalan dibangun menggunakan beton bertulang. Pada saat itu jalanan baru saja di timbun dengan kerikil, karena demi mengejar waktu akhirnya motor Honda XRM 125 cc kupacu dengan kecepatan 60 km/jam yang menyebabkan semua body motor bergetar.

Jalanan sedang di bangun

20 menit menjelang masuk ke El Nido kembali mata di manjakan dengan pemandangan yang luar biasa, laut terhampar biru di bawah dengan karang-karang kapur berdiri gagah perkasa diatasnya. Sebenarnya hendak menunggu sunset di sana, tapi kondisi badan yang sudah capek serta belum menemukan penginapan yang telah dipesan oleh teman Filipina saya yang berkunjung kesana 3 bulan sebelumnya. Akhirnya dengan berat hati meninggalkan tempat itu.

Pemandangan sebelum masuk kota El Nido

Perjalanan panjang selama 9 jam terbayarkan juga dengan pemandangan yang sangat mempersona hati dan memanjakan mata. Memasuki kota El Nido di sambut keramahtamahan dari penduduk lokal. Karena tidak mau nyasar-nyasar mencari penginapan Biolina akhirnya saya bertanya kepada penduduk setempat, tapi karena ini penginapan yang baru jadi kurang di kenal, karena alamat yang ada juga jelas akhirnya seorang tukang ban yang tidak tahu mengoper saya ke seorang ibu yang membawa saya hingga ke jalan yang di maksud.

Plank nama Biolina Guest House yang teramat kecil sempat membuat saya nyasar ke tempat lain, dan lagi-lagi seorang ibu membawa saya ke tempat yang benar. Begitu sampe disana langsung di sambut dengan ramah oleh pemilik penginapan, Ronnie panggilannya langsung menyambut dengan gembira dan berkata saya baru saja telepon temanmu menanyakan kapan sampai disini, rupanya kamu telah sampai.

Seperti biasa bule-bule yang touring ke El Nido dari Puerto Princesa terdiri dari 2 orang atau lebih dan kebetulan saya hanya solo traveler dan terhitung “nekad” touring sendirian, setelah saya jelaskan secara singkat perjalanan saya tersebut dia langsung cerita-cerita dengan orang-orang seantero El Nido dan selalu perkenalkan dengan teman-teman dan tamu-tamunya bahwa saya touring sendirian (merasa mendadak seleb)

Terletak di ujung utara Pulau Palawan, El Nido terbilang sebuah kota kecil. Menyusurinya dari ujung ke ujung hanya memakan waktu 20 menit. Sebelum para turis berdatangan ke El Nido, perikanan dan pengumpulan sarang burung walet adalah penghasilan utama masyarakat setempat. Kini sector pariwisata menjadi faktor ekonomi utama. Penginapan dan rumah makan bermunculan di mana-mana, terutama di sepanjang pantai berpasir putihnya yang berada di sebuah teluk mungil.

El Nido Beach

Belum sempat beristirahat, saya kembali melangkahkan kaki keluar dari kamar tempat persemayaman saya selama 3 malam di El Nido, kamar yang ukurannya lumayan dengan 2 buah tempat tidur, kamar mandi dalam dan Air Conditioner untuk menanyakan tempat makan di El Nido.

Pada awal saya pikir hanya di arahkan tempat dengan directionnya saja, ternyata Ronnie mengajak saya jalan berkeliling El Nido dan menunjukkan tempat-tempat makan, tempat santai dan keliling ke pantainya. Puas bertanya-tanya tentang penduduk  El Nido dan juga budaya lokal akhirnya memutuskan nongkrong di sebuah restoran dan bar yang menyediakan aneka panggangan. Si Ronnie meninggalkan saya sendiri menunggu menu yang telah di pesan.

Kota El Nido

Seporsi burger menjadi makanan pembuka untuk sore itu ditemani segelas mango punch kemudian di lanjutkan dengan pork grill (berharap senikmat masakan khas Karo) rupanya itu hanya angan-angan saja, rasanya plain saja dan bisa di bilang tak berasa dengan nasi yang selengket pulut menjadi main course hari itu.

386608_10151341132519074_1281064379_n

Seperti umumnya atraksi wisata di kepulauan,island hopping adalah sebuah ritual wajib di El Nido. Perahu Bangka akan membawa kita melaju di perairan Bacuit yang menawan. Para pemandu biasanya akan menggiring turis masuk ke laguna-laguna tersembunyi dan pantai-pantai rahasia. Menembus lubang di batu karang, untuk kemudian menemukan alam lain di baliknya.

Alternatif lain seperti bersantai dan menggelar piknik dadakan di pantai berpasir putih yang lembut adalah pilihan yang tidak kalah menariknya. Dari sini aktivitas dapat dilanjutkan dengan snorkeling sambil melewati terumbu karang indah yang dihuni oleh biota laut yang berwarna-warni. Dan jika anda beruntung, bukan tidak mungkin anda akan berhadapan dengan penyu langka! Sebagai catatan penting, bersiaplah untuk basah di tur island hopping ini, karena terdapat berbagai pantai, laguna, dan gua, yang harus dicapai dengan cara berenang ! tenang saja, biasanya jaket pelampung sudah disediakan bagi semua pengunjung yang memerlukannya.

Secret Lagoon

Karena sebelum datang telah melakukan riset what to do selama di El Nido ini, kemudian memesan paket tour dengan Ronnie, tidak tanggung-tanggung langsung memesan 2 paket tour yaitu paket A dan paket C. Itu berarti selama 2 hari berturut-turut di El Nido akan diisi dengan island hoping dan serangkaian kegiatan yang termasuk didalamnya. Sebagai bonus Ronnie memberikan seperangkat alat snorkeling yang biasa harus di sewa seharga 100 PHP.

ISLAND HOPING

Efek kecapaian di jalan membuat saya sekitar pukul 20.00 telah terkapar di kamar dan terbangun sekitar pukul 07.00 pagi, begitu membuka mata kok sekeliling kok terang berderang ya? Kok terasa panas di kamar. Rupanya sudah pagi dan listrik telah padam (listrik di El Nido padam setiap hari dari pukul 06.00 hingga pukul 14.00)

Selesai mandi dan packing barang yang hendak dibawa selama island hoping saya keluar dari kamar dan ternyata Ronnie telah siap menyambut dengan segelas kopi hangat di depan kamar dan senyum khasnya sambil mengucapkan good morning Karnadi, how you feel today ?? ready for island hoping ?? sambil berbasa basi menikmati kopi ditemani pop mie yang dibeli kemarin malam.

Lagoon

Setelah memastikan semua dibawa akhirnya dengan diantar Ronnie saya sampai ke operator tour yang akan membawa saya keliling pulau demi pulau, tapi ketika tidak jauh berjalan dari penginapan kaki saya terasa sakit yang cukup mengganggu. Efek terkilir sebulan yang lalu serta diterpa angin selama 9 jam menyebabkan otot yang luka kembali berulah di hari ketika petualangan akan di mulai menjadi satu beban yang sangat berat untuk dilewati.

Sesampainya di tempat dan membayar biaya tour sebesar 700 PHP dan juga setiap pengunjung wajib membayar Enviroment Fee sebesar 200 php yang berlaku 10 hari, saya kemudian bergabung dengan peserta yang lain sambil menunggu hingga kuota 20 orang terpenuhi dalam rombongan kami. Kaki yang terkilir benar-benar membuat saya tidak bisa banyak melakukan banyak aktifitas selama menunggu, hanya duduk dan mengarahkan kamera menjepret objek-objek seputaran saya saja.

sebening kristal

Yang di tunggu akhirnya datang juga, seluruh peserta yang menjadi team kami sudah lengkap, guide dan bootman menaikkan peralatan dan juga jatah makan siang kami ke kapal, setelah selesai semuanya akhirnya kami dipersilahkan masuk ke dalam kapal, dikapal ternyata semua bule hanya saya sendiri yang muka Asia.

TOUR A : “The Lagoons of Miniloc”

Byur…

Lagi-lagi saya terjatuh ketika berjalan menuju Secret Lagoon, dengan air setinggi lutut orang dewasa menyebabkan susah untuk berenang dan mau ngak mau harus berjalan, karena kaki yang “berulah” tersebut membuat sering jatuh ke air.

Perhentian pertama kami adalah Secret Lagoon, Laguna yang tersembunyi di balik batu dan masuk kedalam harus melewati sebuah lubang berukuran 1,5 meter sehingga harus merangkak masuk ke dalamnya. Begitu didalam laguna tersebut kita disuguhi bukit kapur dan marmer yang menjulang tinggi serta air jernih yang dingin membuat betah untuk berenang dan berlama-lama di dalam. Puas berendam didalam secret lagoon guide kami akhirnya mengumpulkan kami kembali untuk menuju destinasi selanjutnya.

Kami diantar menuju Seven Commando Beach, sebuah pantai berpasir putih yang halus dengan air laut yang jernih serta spot untuk snorkeling menjadikan pantai ini menjadi pilihan dalam setiap island hoping, begitu turun dari kapal dengan kaki yang tertatih-tatih saya juga tidak melewatkan snorkeling diantara koral-koral, karena memang kondisi yang kurang memungkinkan saya tidak ikut serta dengan teman-teman serombongan hingga jauh ke tengah.

Puas snorkeling saya melepas lelah di tepi pantai sambil menikmati kehangatan matahari khas negeri tropis. Sambil mengobrol dengan guide yang membawa kami island hoping hari itu, dia menerangkan sebelum rame turis, penduduk sekitar hidup dari mengumpulkan sarang walet dari atas bukit kapur dan biasa dia mendaki keatas bukit untuk mengumpulkan sarang walet dan kemudian menjualnya ke Puerto Princesa, ketika turis mulai berdatangan ke El Nido dia memilih menjadi guide.

Tidak terasa matahari semakin tinggi dan perut rasanya mulai keroncongan, ternyata emang sudah waktunya cacing-cacing di beri makan karena paginya hanya di ganjal dengan mie instan dan kopi, akhirnya perjalanan di lanjutkan ke Shimizu Island, di pulau inilah kami menghabiskan waktu berenang sambil menunggu guide merangkap chef itu memasak makanan buat kami.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya siap juga, dihadapan kami tersaji cumi bakar, ikan bakar, daging babi panggang, nasi dan aneka buah-buahan khas filipina (salah satunya markisa) tanpa menunggu lama masing-masing kami langsung tanpa komando menyerbu makanan yang telah tersaji tersebut. Ngak sampe hitungan 30 menit semua yang tersaji telah ludes menyisakan sampah buah dan sisa makanan, kesemuanya itu di packing kembali tanpa meninggalkan bekas di pulau dan di bawa kembali ke El Nido. Itulah kesadaran lingkungan yang sangat patut diacungkan jempol, bahkan air bekas ikan dan cumi saja dibawa kembali.

409744_10151344522634074_745011594_n

Perut telah diisi penuh, stamina juga sudah fully charge, saatnya kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yaitu Big Lagoon, memasuki big lagoon bener2 membutuhkan perjuangan ekstra, karena permukaan airnya yang dangkal di beberapa tempat menyebabkan kapal harus bergerak sangat pelan dan di bantu crew kapal untuk mengarahkan kepada kapten tempat-tempat yang dangkal, ditambah ramenya kapal yang hendak masuk kedalam akhirnya bergantian menyusuri big lagoon hingga kedalam.

Big Lagoon adalah salah satu swimming hole terindah di dunia. Bagaimana tidak, laguna tenang berair hijau turquoise ini dikelilingi oleh tebing batu kapur abu-abu kehitaman yang menjulang tinggi ke angkasa. Di sana sini terdapat gugus karang vertikal dengan rupa-rupa bentuk. Itu masih ditambah dengan hijau hutan yang juga menyembul di sana sini. Jalan masuknya lagunanya pun dramatis. Bayangkan sebuah ngarai panjang yang diapit oleh tebing di kanan kirinya. Dasar ngarai sendiri adalah pasir putih yang tertutup oleh air dangkal sangat jernih. Sesekali ombak yang sangat lembut mengalun di sepanjang kanal itu. Di Big Lagoon inilah, serial televisi Survivor versi Swedia pernah difilmkan.

Memasuki Big Lagoon

Small Lagoon, lain lagi ceritanya. Menuju ke sana harus ditempuh dengan perahu. Setelah menemui sebuah dinding karang terjal yang mirip tembok benteng temukan celah kecil di dasar tebing, itulah pintu masuk menuju tempat ini. Triknya, Anda harus mendekat untuk menemukan jalan tersembunyi ini. Uniknya untuk masuk ke sini, Anda harus berenang untuk  menembus dinding karangnya yang kokoh. Namun sajian dibalik perjuangan menembus karang itu tentu saja adalah sebuah “surga” memukau. Laguna hijau zamrud yang ternaungi oleh tebing tinggi.

Selepas dari Small Lagoon, matahari juga semakin bergeser ke ufuk barat yang sebentar lagi akan digantikan oleh bulan, perjalanan kami menyusuri pulau-pulau indah di seputaran sana juga akan berakhir menyisakan decak kagum keindahan alam surga ala Filipina ini. Kaki yang sakit makin menjadi-jadi menemani hingga akhir perjalanan sore itu.

Small Lagoon

Sewaktu perjalanan balik ke hotel di tengah perjalanan bertemu dengan Ronnie dan disambut senyum khasnya, kepada Ronnie saya menjelaskan perihal kaki saya yang sakit dan minta bantuan untuk cancel tour yang udah di pesan sebelumnya dan Ronnie tidak keberatan serta dia menyarankan untuk ke dokter, kebetulan dia kenal dengan dokter di sana, saya bilang tidak apa-apa nanti saya istirahat mudah2an besok sudah pulih kembali. Akhirnya sepanjang sore itu menghabiskan waktu berburu obat gosok. Yang sialnya obat gosok yang biasa dipakai tidak dikenal di sana. Akhirnya mendapatkan koyo dan obat anti nyeri.

NACPAN BEACH

Terbangun di pagi hari dengan kaki yang sudah lumayan membaik tentu merupakan kabar gembira, berarti hari ini bisa kembali eksplore keindahan di El Nido. Seperti biasa memulai hari dengan kopi yang telah disiapkan Ronnie di depan kamar. Sewaktu sarapan sambil mengobrol dengan Ronnie, tiba-tiba istri Ronnie ikutan nimbrung sambil bertanya plan untuk hari tersebut, saya jawab belum ada plan untuk hari itu. Dia menyarankan untuk ke Nacpan Beach, pantai yang bersih dan indah.

Sambil mengiyakan perkataan istrinya, Ronnie kemudian sibuk mengeluarkan peta menunjukkan letak Nacpan beach tersebut. Setelah informasi yang di berikan dirasa cukup akhirnya saya berpamitan dengan mereka untuk mencari Nacpan Beach, perjalanan awalnya santai karena jalanan sepi dan juga sangat mulus, tetapi semakin masuk kedalam kok makin rusak jalannya.

Setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk lokal dan di tunjukkan jalan akhirnya bertemu dengan pasangan bule yang mempunyai tujuan yang sama yaitu Nacpan Beach, akhirnya kami beriringan menuju kesana. Perjalanan menuju Nacpan menghabiskan waktu sekitar 2 jam.

Nacpan Beach adalah pantai berpasir putih yang masih belum terjangkau oleh hiruk pikuk turisme, sangat cocok untuk berjemur di pantai menikmati matahari, air laut yang biru dan pasir putih merupakan padanan yang pas memanjakan mata. Di sekitar pantai tidak terdapat resort atau hotel, hanya terdapat sebuah rumah milik orang swiss, dia membeli 3 hektar tanah dan pantai, tetapi pantai tetap di buka untuk umum dan siapapun dapat berkunjung kesana.

Menikmati pantai yang sunyi tidak terasa waktu telah siang, untungnya di dekat pantai ada yang menjual makanan, ditemani ikan bakar dan air mineral duduk sejenak berisitrahat untuk kembali ke hotel yang berjarak tempuh 2 jam. Sewaktu selesai makan dan akan jalan baru keingat minyak motor udah hampir habis akhirnya kalang kabut juga mencari penjual minyak, dan sialnya minyak yang dijual seharga 80 PHP, mau ngak mau ya tetap diisi sebanyak 1 liter.

Selain dari daya tarik alam dan aneka paket tour yang ditawarkan di El Nido, ternyata juga menyimpan segudang makanan yang bisa di bilang murah, sewaktu perjalanan pulang melihat ada restoran yang menjual El Nido Soup (sup burung walet) langsung aja berhenti dan memesan El Nido Soup seharga 100 php untuk 1 mangkuk. Harga yang terhitung sangat murah apalagi diluaran soup serupa bisa 2-3 kali lipat dari harga disana.

Tempat wajib kunjung lainnya di El Nido adalah El Nido Corner, dimiliki dan dikelola oleh Ole Jacobsen seorang Denmark yang telah berdiam lama di El Nido, seorang laki-laki paruh baya yang murah senyum, ketika saya tiba di El Nido Corner, dia sendiri yang menyambut dan menyapa dengan ramahnya. “My name is Ole,” “Are you looking for good food? I can show you our freshest catch of the day!”  Ole merekomendasikan El Nido Burger yang gede, sambil menunggu pesanan datang sejenak menikmati sunset.

Akhirnya petualangan 3 hari 2 malam di El Nido harus segera berakhir, keesok hari harus kembali ke Puerto Princesa itu berarti akan meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini, malam itu listrik kembali padam (seperti PLN di Indonesia) karena panas akhirnya duduk diluar mengobrol bersama Ronnie, Ronnie berasal dari Cebu dia sangat antusias menceritakan keindahan di Cebu. Kami sharing cerita saya ceritakan Indonesia juga tidak kalah indah dibandingkan dengan Filipina dan dia tertarik dengan keindahan foto-foto pemandangan Danau Toba yang saya tunjukkan kepadanya (semoga tercapai kunjungan ke Danau Toba) tidak berapa lama datang 2 traveler dari China yang mencari tempat tinggal, seluruh El Nido telah penuh, kebetulan di tempat Ronnie masi ada 2 tempat di Dormitorinya, jadilah kedua traveler itu dapat tempat berteduh malam itu.

Malam telah larut dan listrik telah kembali menyala, akhirnya saya meminta izin untuk istirahat terlebih dahulu. Perjalanan panjang kembali di mulai esok hari

BACK TO PUERTO PRINCESA

Pagi itu mendung menggantung diatas El Nido, ketika saya meminta izin untuk kembali ke Puerto Princesa jam masih menunjukkan pukul 06.30, ternyata nasib kurang baik 20 menit keluar dari El Nido hujan turun dengan derasnya, mau ngak mau tidak ada ponco akhirnya berteduh di SPBU, 5 menit kemudian hujan reda dan langsung melanjutkan perjalanan, ternyata ngak sampai 10 menit hujan deras kembali mengguyur El Nido dengan badan yang basah akhirnya menemukan sebuah rumah kosong untuk berteduh, air seperti dicurahkan dari langit. Hujan selama 1 jam telah menunda perjalanan kembali ke Puerto.

Nasib baik kembali berpihak kepada saya, setelah hujan reda akhirnya saya dapat melanjutkan kembali perjalanan, memasuki jalanan rusak karena efek hujan, jalanan tersebut menjadi becek dan berlumpur. Sedikit menghambat jalan maju.

Jalanan yang kosong, jalan yang mulus menjadikan perjalanan lumayan lancar, setelah melewati Sabang (tempat Underground River) saya melihat sebuah pamplet “BATAK VILLAGE” dengan semangat 45 mengarahkan motor memasuki jalan setapak tersebut sambil berteriak dalam hati, akhirnya saya menemukan tempat ini. Ternyata jalan kedalam juga perlu perjuangan (seperti halnya tanah Batak di Sumut yang selalu rusak jalannya) rupanya Batak Village di Palawan Island ini tidak jauh beda.

Perjalanan masuk ke dalam memakan waktu 40 menit, sepanjang jalan bertemu dengan penghuni Batak Village setiap bertanya berapa jauh lagi, mereka diam seribu bahasa menandakan mereka tidak mengerti apa yang saya maksud, ternyata perjalanan saya harus dihentikan oleh sungai kecil yang tidak dapat diseberangi. Perjalanan setelah sungai itu masi tersisa 30 menit, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya dengan kecewa harus kembali lagi.

Selepas dari kunjungan ke Batak Village yang gagal, perjalanan berlanjut dan akhirnya sampai juga ke Dallas Inn, begitu sampai hal pertama yang dilakukan adalah mencari makan, tapi ternyata pemilik penginapan ada menyiapkan makan menyambut Malam Tahun Baru, jadinya makan di rumah pemilik penginapan. Oring berpesan malam ini akan ada jamuan makan, jadi harap kembali ke penginapan pukul 20.00 akan di mulai. Disuguhi makanan khas palawan menjadikan trip ini makin berkesan.

Setelah usai makan, kami berkumpul semua dia depan penginapan sambil mengobrol dan sharing, si Oring share dia sebentar lagi akan mengembangkan usaha penginapannya di Sabang, tempat Underground River. Dia berkata nanti kalo tahun depan ada kemari sudah bisa tinggal di Dallas Inn, Sabang ya… melewatkan malam tahun baru di Puerto seperti halnya menghabiskan malam tahun baru di Medan, tidak ada acara yang besar-besaran seperti yang diadakan di Manila, tetapi hanya countdown oleh masyarakat sambil memasang mercon dan kembang api. Sejenak setelah lewat pergantian tahun semua bubar dan kembali ke rumah masing-masing, secara tiba-tiba yang tadinya rame langsung sepi.

Pagi hari, kamar di ketuk oleh cleaning service seperti yang telah saya pesankan sebelumnya. Bergegas menyiapkan diri untuk mengejar penerbangan ke Manila pada pukul 08.00 pagi. Setelah sarapan ala kadar yang telah disiapkan Oring akhirnya saya permisi kepada Oring. Dia menyarankan untuk naik tuk-tuk dari depan ke bandara, hanya sebesar 20 PHP jangan mau bayar lebih katanya sebelum melepas kepergian saya.

Menunggu tuk-tuk di pagi-pagi buta dan di awal tahun bukanlah hal yang menyenangkan, jalanan sangat sepi. Tanpa terduga ada satpam bank yang baru pulang kerja melihat saya menunggu tuk-tuk tapi tidak dapat menawarkan untuk diantar, dia bertanya kemana ? saya bilang mau ke Bandara, tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja. akhirnya sampai di Bandara tepat waktu. Check in dan akhirnya terbang ke Manila. Sampai jumpa Puerto Princesa, selamat tinggal El Nido. Keindahan surga yang tersembunyi telah menyihir setiap orang yang berkunjung kesana. Semoga suatu saat diberi kesempatan untuk berkunjung kembali kesana.

HOW TO GET THERE

Perjalanan menuju Pulau Palawan dapat di tempuh dari Clark atau Manila, Maskapai Airphill Express dan Cebu Pasific merupakan salah satu pilihan untuk mencapai Puerto Princesa.

Selanjutnya dari Puerto Princesa ke El Nido banyak pilihan yang antara lain dengan Roro Bus, Bus Lokal dan Private Van yang kesemuanya mempunyai untung ruginya masing-masing atau menggunakan Sepeda Motor seperti yang saya lakukan. Tergantung budget dan kenyamanan dari teman-teman yang hendak berkunjung ke sana.

WHAT TO DO

Beragam kegiatan dapat dilaksanakan di Puerto hingga El Nido. Puerto Princesa terkenal dengan Underground River, salah satu nominasi 7 keajaiban dunia, terdapat juga Honda Bay (island Hoping) juga Batak Village serta El Nido yang menawarkan beragam keindahan alamnya.

Tour A “The Lagoons of Miniloc” -Itinerari: Small Lagoon, Big Lagoon, Shimizu Island, Secret Lagoon. Seven Commando Beach. 700 PHP. Tour B “The Caves and Snake Island” – Itinerari: Pangulasian Island, Snake Island, Cudugnon Cave, Cathedral Cave, Pinagbuyutan Island. 800 PHP. Tour C “The Beaches of Matinloc”  – Itinerari: Hidden Beach, Colasa Beach, Matinloc Shrine, Secret Beach, Helicopter Island. 900 PHP. Tour D “Cadlao Island” – Itinerari: Cadlao Lagoon, Pasandigan Beach, Paradise Beach, Nat-Nat Beach. 700 PHP

WHAT TO EAT

Filipina merupakan surga kuliner, beragam pilihan menu dan rasa. Dari hasil laut hingga makanan lokal. Yang paling terkenal disana adalah Balut (anak ayam yang setengah jadi) kemudian Lecon (daging Babi yang dipanggang)

Selain itu pengaruh budaya Amerika dan Spanyol sangat mempengaruhi citarasa makanan disana, jangan takut susah makan selama disana, semua tergantung lidah dan budget saja.

 

Written By
More from admin

IMPRESSION LIJIANG, PESONA KOTA TUA

MENGUTIP Lin Yutang – seorang penulis buku “no one realize how beautiful it...
Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *