Merekam Geliat Pagi di Yogyakarta

Pagi itu jam masi menunjukkan pukul 04.35 tapi panggilan alarm alami telah memaksa saya untuk segera beranjak dari tempat tidur, rasanya masi enggan untuk meninggalkan kasur yang empuk dengan selimut tebal. AC yang dinginnya saya set maksimal cukup membuat gemetaran ketika harus berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi.

Ritual pagi saya tergolong cukup lama, saya harus berada di kamar mandi sekitar 30-35 menit untuk menuntaskan semuanya, gangguan pencernaan yang diakibatkan karena operasi kandung empedu tahun 2013 yang lalu mengharuskan saya banyak mengkonsumsi sayuran dan buah serta prebiotik untuk kelancaran ritual pagi. Tapi terkadang lumayan malas untuk mengkonsumsi namanya sayur dan buah.

Malam sebelumnya telah janji dengan Haryadi @Omnduut dan Deddy Huang @deddyhuang serta Lenny @lenny.diary untuk jalan-jalan pagi ke pasar yang ada di seputaran hotel, ternyata saya telat 15 menit dari jam yang di sepakati, Lenny whatsapp bilang dia gk jadi ikutan dan Hayadi dan Deddy sudah jalan duluan. Segera cek google map pasar Beringharjo tidak terlalu jauh dan juga masi pagi jadi memutuskan ke pasar tersebut saja.

Masi tiduran di emperan toko
Ada yang sudah mulai beraktifitas

Perlahan berjalan menuju ke Pasar Beringharjo, sepanjang jalan rupanya sudah terlihat masyarakat mulai beraktifitas, matahari dengan malu-malu memancarkan cahayanya yang semburat jingga. Ada yang berolahraga, ada yang buru-buru berangkat ke tempat kerja, hingga ada yang masi terbuai mimpi tidur di emperan toko.

Bersepeda bersama. Olahraga pagi menyehatkan jiwa dan raga
Kerja Pagi

Di dalam pasar Beringharjo ternyata sudah ramai dengan pembeli dan penjual yang bertransaksi, terlihat ibu-ibu yang mempersiapkan dagangan sambil menunggu pembeli, Pasar ini adalah pasar tertua yang tidak dapat terpisahkan dengan Keraton Yogyakarta. Beringharjo berasal dari kata “Bering” yang artinya pohon beringin, serta “Harjo” yang artinya memberikan kesejahteraan. Secara harafiah mempunyai makna Pohon beringin yang memberikan kesejahteraan bagi warga Yogyakarta.

Nenek Penjual Tempe

Usai berkeliling Pasar Beringharjo, saya kembali ke Hotel untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya yang lumayan padat dalam kegiatan fam trip dari Dinas Pariwisata Kota Jogja. Kembali saya menyusuri trotoar jalan Malioboro yang terkenal itu, bedanya tadi sewaktu datang masih belum banyak aktifitas, ketika saya kembali jalanan di Malioboro udah ramai, pedagang kaki lima menjajakan makanan, masyarakat ada yang sekedar duduk di kursi yang disediakan sampai ada yang menawarkan pijat.

Trotoar jalan Malioboro yang tertata rapi
Pedagang Kaki Lima sedang melayani pembeli yang membeli gorengan
Sarapan Pagi Bersama
Aneka jenis makanan dijual, dari Bubur Malioboro
Hingga Bubur Samarinda, semua tersedia. Tergantung selera kita milih yang mana
Penjual Jajanan Kue
Santai sejenak sambil membaca berita untuk menambah informasi, agar kekinian
Medan Bisnis edisi Minggu 22 Oktober 2017

 

Written By
More from karnadi lim

#Menolaklupa 17 Tahun Mengenang Tragedi Kerusuhan Mei 1998

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan...
Read More

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *