Sendratari Ramayana

Ramayana adalah epic yang luar biasa panjang jika diceritakan (jika teman-teman masih ingat film Ramayana di salah satu TV yang diputar hingga beberapa tahun). Berbagai macam karakter tokoh terdapat di dalamnya. Bukan sekedar bertutur  tentang baik/jahat, atau hitam/putih saja. Banyak warna-warni kehidupan manusia yang terpampang dalam cerita tersebut. Ada kejahatan, kelicikan, tipu muslihat namun diluar itu ada pula ketinggian budi, nasionalisme dan kesetiakawanan meskipun berada di sisi antagonis seperti tercermin pada diri Kumbakarna dan Trijata.

Dalam Famtrip yang di selenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Jogja, kami di ajak untuk menikmati sendratari Ramayana di kompleks Candi Prambanan, diawali dengan makan malam sambil menyaksikan siraman cahaya yang sangat indah ke Candi Prambanan dan dilanjutkan dengan menonton sendratari Ramayana yang menceritakan peperangan antara Rama Wijaya dengan Rahwana.

Kisah Cinta Rama dan Shinta adalah alur utama cerita pementasan Sendratari Ramayana. Sebuah kisah kasih klasik yang sungguh apik dipentaskan sebagai salah satu unggulan pertunjukan budaya di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Sebenarnya ada beberapa versi cerita Ramayana, Untuk Sendratari Ramayana di Prambanan berpedoman pada versi Serat Rama hasil gubahan RNg Yasadipura I, seorang pujangga dari Keraton Kasunanan Surakarta. Versi ini memang paling populer di tuturkan dalam lingkup masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jateng dan DIY.

RAMA DAN SHINTA

Alkisah, tersebutlah seorang puteri cantik jelita dari negeri Mantili yang bernama Shinta, putera Prabu Janaka. Untuk mencari jodoh bagi sang puteri tercinta, sang Prabu mengadakan sayembara. Seorang putera mahkota dari Ayodya yang bernama Rama Wijaya akhirnya memenangkan sayembara dan berhak mempersunting Dewi Shinta.

Rama Wijaya berhasil memenangi sayembara dan berhak mempersunting Dewi Shinta

Rahwana, raja dari kerajaan Alengka, menyimpan hasrat yang sama untuk mempersunting Shinta menjadi permaisurinya. Maka ketika Shinta, Rama dan adiknya Laksmana dalam perjalanannya telah memasuki hutan belantara Dandaka, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rahwana untuk segera melaksanakan niatnya merebut Shinta dari tangan sang Rama.

Rahwana, raja negeri Alengka yang juga tertarik dengan Dewi Shinta

Rahwana segera mengatur siasat, dia perintahkan seorang raksasa bawahannya yang bernama Marica untuk menyamar sebagai Kijang Kencana yang sangat lincah dan cantik. Siasat Rahwana berjalan mulus, Shinta segera tertarik dengan dengan gerak-gerik dan kecantikan sang Kijang Kencana ini, sehingga meminta Rama untuk menangkapnya. Rama segera mengejar sang kijang, sementara itu keselamatan Shinta di serahkan pada Laksmana.

Ternyata si Kijang lincah ini sangat sulit untuk ditangkap, bahkan selalu menggoda Rama dengan tidak benar-benar menjauh dari Rama. Lama kelamaan Rama menjadi kesal dan dipanahlah si Kijang Kencana. Begitu anak panah tertancap, si kijang menjerit keras dan berubah kembali menjadi sosok raksasa Marica. Ternyata teriakan ini terdengar oleh Shinta, dan mengira yang berteriak adalah Rama. Karena sangat kuatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Rama, Shinta meminta Laksmana untuk segera menyusul Rama.

Awalnya Laksmana tidak mau, karena merasa bahwa keselamatan Shinta telah menjadi tanggung jawabnya. Namun karena Shinta terus mendesak akhirnya berangkatlah Laksmana menyusul Rama. Sebelum pergi dia membuat rajah berupa garis melingkar di sekeliling Shinta sebagai perlindungan. Tidak ada seorangpun yang mampu menembus garis tersebut.

Mengetahui bahwa Shinta sekarang tinggal sendirian di hutan tanpa penjaga, Rahwana segera beraksi mencoba menculik Shinta. Namun ternyata dia tidak mempu menembus garis rajah sakti yang dibuat Laksmana. Tidak kurang akal, kemudian Rahwana menyamar menjadi seorang tua yang terlihat lemah dan pantas dikasihani. Melihat orang tua ini hati Shinta terketuk iba sehingga tergerak untuk menghampiri, tanpa disadari ternyata Shinta telah berada diluar garis perlindungan. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, pak tua segera berubah kembali menjadi Rahwana dan segera menyambar Shinta, membawa terbang ke negeri Alengka Diraja.

Di tengah perjalanan membawa Shinta, Rahwana dihadang oleh Jatayu, seekor burung raksasa sahabat Janaka ayah dari Shinta. Jatayu mencoba menyelamatkan Shinta, segera terjadilah perang tanding antara Rahwana dan Jatayu. Namun ternyata Rahwana dengan mudah mengalahkan Jatayu. Dalam keadaan terluka parah, burung garuda itu berusaha mencari Rama untuk mengabarkan tentang penculikan Shinta yang dilakukan oleh Rahwana ini. Jatayu berhasil menemukan Rama, setelah selesai bercerita gugurlah Jatayu sebagai seorang pahlawan pembela kebenaran.

Jatayu menghadang Rahwana yang menculik Shinta
Pertarungan Jatayu dengan Rahwana, Jatayu dikalahkan Rahwana

PEPERANGAN RAMA MENYELAMATKAN SHINTA

Rama dan Laksmana segera menuju ke Kerajaan Alengka untuk menyelamatkan Shinta. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor kera putih yang bernama Hanuman. Mereka saling bercerita keperluannya masing masing. Sang kera putih ini sedang menjalankan tugas sang paman yaitu Sugriwa untuk mencari bantuan agar bisa mengalahkan Subali kakaknya sendiri. Subali yang sakti berniat tidak baik dengan merebut Dewi Tara yang merupakan kakasih adiknya Sugriwa. Rama Wijaya dengan sukarela bersedia membantu mengalahkan Subali. Dengan mudah Rama mengalahkan Subali, sehingga Dewi Tara kembali kepada Sugriwa dan menjadi isterinya.

Hanuman

Merasa hutang budi kepada Rama, Sugriwa menawarkan bantuan untuk mencari Shinta. Lantas disusunlah strategi untuk menyelamatkan Shinta. Sugriwa memerintahkan Hanuman untuk segera pergi ke Alengka. Selain memastikan bahwa Shinta masih selamat, juga menjajagi kekuatan angkatan perang Kerajaan Alengka.

Hanuman membantu Rama mencari Shinta

Shinta ditawan Taman Kerajaan Alengka yang disebut Taman Argasoka. Rahwana terus membujuk Shinta untuk bersedia menjadi isterinya. Segala cara diupayakan. Termasuk dengan mengutus kemenakannya yaitu Trijata untuk terus mendampingi dan membantu membujuk Shinta. Namun semua bujuk rayu Rahwana tidak pernah berhasil menggoyahkan pendirian Shinta. Sampai kemudian datanglah Hanuman yang berhasil menyusup masuk ke Taman Argaloka. Dia segera menghadap Shinta dan menyampaikan bahwa dirinya adalah utusan Sang Rama. Kesedihan Shinta mendadak hilang, berganti dengan harapan bahwa sang suami tercinta akan segera datang menyelamatkan dirinya.

Hanuman yang berhasil menyusup masuk ke Taman Argaloka dan bertemu Shinta

Setelah selesai dengan urusannya menemui Shinta, Hanuman tidak segera pergi untuk melapor kepada Rama, namun sengaja membuat huru hara di kerajaan Alengka dengan merusak keasrian Taman.

Singkat cerita, terjadilah perang besar di Alengka. Rama dengan bala tentara pasukan para kera menyerbu Alengka. Sedangkan para raksasa bala tentara Alengka menahan serbuan para kera sakti dengan gagah berani pula. Pada pementasan Sendratari Ramayana, adegan peperangan ini diramu dengan koreografi sangat apik. Dimainkan oleh para penari profesional yang tahu benar bagaimana menampilkan olah tari yang enak ditonton.

Gerak tubuh adalah bahasa universal. Mereka tampaknya berhasil mengeksploitasi keunggulan itu menjadi tontonan yang mudah dicerna oleh siapapun. Baik orang dewasa maupun anak-anak. Bahasa verbal tak lagi menjadi halangan untuk menikmati pertunjukan. Banyak wisatawan asing yang terkagum-kagum menyaksikan gerakan tari yang lincah dan padu. Bahkan juga mampu membuat tertawa para penonton saat adegan tari lucu para denawa dan bala tentara kera yang dimainkan para penari anak-anak.

Di Taman Argasoka yang belum tersentuh kedahsyatan peperangan yang ada di sekitarnya, Shinta terus menolak bujuk rayu Rahwana. Namun ketika Rahwana menunjukkan potongan kepala Rama dan Laksmana, dia jatuh pingsan. Mengetahui kejadian ini, Trijata marah kepada Rahwana, dia tahu itu semua hanyalah siasat licik Rahwana, karena sesungguhnya Rama dan Laksmana masih berperang di luar taman.

[perfectpullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Jika engkau laki-laki jantan, bukan pengecut, bawalah kepala Rama dan Laksmana yang asli, bukan membuat tipu muslihat licik seperti itu!”, hardik Trijata kepada Rahwana.[/perfectpullquote]

Dengan rasa malu dan marah yang ditahan, Rahwana segera pergi menuju medan perang. Suasana peperangan sudah berat sebelah. Kekalahan Alengka sudah diujung tanduk. Kumbakarna telah gugur, demikian pula sebagian bala tentara nya sudah terluka dan kepayahan.

Pasukan Alengka sudah kepayahan dan hampir kalah

Rahwana akhirnya berhadapan langsung dengan Rama. Rahwana sendiri adalah seorang yang sangat sakti sehingga tidak mudah bagi Rama untuk mengalahkannya. Bahkan dia juga dijuluki Dasamuka, yang artinya bermuka sepuluh, dan sering diinterpretasikan dengan bernyawa rangkap 10, sehingga sangat sulit untuk dibinasakan. Namun dengan bantuan Hanuman akhirnya Rahwana binasa, tubuhnya tetancap anak panah sakti Rama dan Hanuman menghimpitnya dengan gunung Sumawana.

Rama berhadapan dengan Rahwana
Pertarungan terakhir Rama dan Rahwana
Rahwana Tewas

Usai menyaksikan sendratari Ramayana tersebut, kami pulang kembali ke Hotel, tidak terasa perjalanan 4 hari 3 malam sudah selesai, esok hari harus kembali ke kota masing-masing untuk melanjutkan aktivitas rutin.

Tags from the story
, ,
Written By
More from karnadi lim

Teman Perjalananku dan Kisahnya

[pullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Lots of people want to ride...
Read More

3 Comments

  • Detail banget bang 😀 jujur saja saat nonton aku gak banyak paham. Ditambah kondisi badan yang sudah sangat letih habis basah-basahan di Kalisuci. Tapi memang penampilan mereka ketje! aku suka musik, tata panggung dan kostumnya.

    • kemarin waktu buat postingan ini, baca dulu berhari2 tentang sendratari dan juga cerita ramayana. waktu pertunjukan itu juga sama, udh letoi dengan kepala migrain hahahahaha, untungnya selesai dalam 90 menit ya, kalo lebih lama keknya bisa tidur selama pertunjukan hahahaha

      • Haha iya, aku udah terkantuk-kantuk saat nonton itu. Seneng tapi emang kondisi badan pas capek, dan habis makan pula kan, jadi emang pengaruh sama ngantuk hwhw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *