Weekend Getaway – Bukit Lawang

Long weekend tahun ini selama 4 hari menyisakan pengalaman buruk bagi setiap orang yang akan berwisata ke Berastagi dan Parapat. Terjebak macet berjam2 yang menguras banyak energi menjadikan liburan untuk santai menjadi kurang mengasikkan.

Tapi tidak bagi kami, karena kami memilih bukit lawang yang terletak di Taman Nasional Gunung Leuser untuk kami melepaskan kepenatan, kami tidak ada masalah sama sekali dengan trafik lalu lintas yang padat, jadwal kami sesuai dengan prediksi sebelumnya. Indahnya hidden paradise di kaki gunung Leuser yang masuk dalam jajaran Bukit Barisan.

Perjalanan kami sangat lancar dari Medan menuju Binjai, hanya ketika dari Kuala menuju Bahorok jalanan lumayan hancur dan memaksa kami untuk memperlambat laju kendaraan kami.
Seperti biasa lazimnya tempat wisata di Sumatera Utara, kita dihadang didepan pagar masuk bukit lawang untuk merelakan bbrp puluh ribu berpindah dari kantong kami ke kantong para PS (pemuda setempat) dengan modus RETRIBUSI, tak jauh dari pos pejabat tak resmi, kembali kami dihadang oleh pejabat resmi dengan todongan karcis parkir sebesar Rp. 20.000,-

Retribusi yang dibayarkan tidak juga membangun infrastruktur tempat wisata tersebut, tetapi memperkaya oknum tertentu yang berkuasa memberikan rasa aman bagi pengunjung dan pengelola tempat di Bukit Lawang, oleh karena itu saya menolak membayar dan menerobos maju dan nyatanya mereka tidak bisa berbuat banyak.

Dibalik infrastruktur yang tidak bagus2 amat, nyatanya kami sangat puas menikmati keanekaragaman hayati serta ketenangan yang ditawarkan Guest House Back To Nature, dikelola oleh seorang yang mempunyai kontribusi besar terhadap kelestarian ekosistem di Bukit Lawang, tak salah kami memanggil beliau Penjaga Ekosistem Bukit Lawang.
Rencana awal hanya ber 4 kami akan liburan sejenak meninggalkan hiruk pikuk perkotaan kemudiam bertambah menjadi 5 orang, beberapa hari sebelumnya bertambah lagi 1 orang dan pada hari keberangkatan bergabung bersama kami solo traveler dari Tiongkok.

Menuju ke Guest House Back To Nature sepertinya benar2 seperti namanya, kami harus menyusuri pinggiran sungai dan menyeberang sungai sebelum akhirnya tiba disana, tempatnya yang berada jauh didalam hutan dikelilingi pepohonan tinggi dan masih banyak monyet yang berkeliaran menjadikan suasana benar2 back to nature.
Kebetulan pada saat ini hanya kamilah penghuni kamar di sana, maka banyak waktu bisa kami habiskan berbincang dan sharing dengan guide dan juga pengelola yang dipercayakan mengurus guest house tsb, akhirnya dari hasil bincang2 setujulah teman2 untuk jungle treking melihat orang utan dari dekat keesok harinya.

Berbekal buah2an berangkatlah 5 orang dari kami untuk trekking sambil memberi makan orang utan yang ada disana, sungguh beruntung dalam pencarian di hutan mereka dapat bertemu dengan “Mina” orang utan legendaris penghuni tetap hutan bukit lawang beserta beberapa teman2nya.

Sungguh perjalanan yang mengasikkan, dengan teman2 yang luar biasa, menyisakan cerita yang dikenang sampai kapanpun.. Ganbatte guys, sampai jumpa di trip selanjutnya… Pulau Banyak we are cominggg soonnnnnn…….

DSCF8709
Rendang kentang
DSCF8712
Telur Dadar hanya 10.000,- jika pesannya Omelet harganya jadi 20.000,- πŸ˜›
Tags from the story
Written By
More from karnadi lim

360 VIRTUAL TOUR – MEDAN

Post Views: 31 Related
Read More

7 Comments

  • Haha…sama aja di mana2 di Indonesia pungli berkedok retribusi ya πŸ™
    Eh ini guesthousenya di seberang sungai kah? Maksudnya di sisi yang tidak terlalu banyak penginapannya?
    Dulu ke sini tapi ga jadi trekking karena begitu liat bule langsung charge pake Euro dan harganya ga bisa ditawar pula :(( Akhirnya cuma ke feeding platform aja, tapi sempet liat orangutan yang nongol sih πŸ™‚

    • iya, bener kak Susan.. semua itu pungli yang berkedok retribusi, kalo saja retribusi di pakai untuk perbaiki infrastuktur yang ada sih gak apa-apa tapi ini masuk ke kantong sendiri. Ini guesthousenya di seberang sungai dan harus nyeberang, 2 tahun lalu sih masi ada jembatan gantung tapi karena di terjang air bah desember 2015 jadinya rusak dan harus benar2 basah melewati sungai sebelum sampai di penginapannya. Itu harganya pake euro karena kepala ranger nya orang Perancis dan menjual paket tour kepada bule2 dari eropa, berimbas kepada turis lokal juga, kemarin kami di tawari 200 ribu per orang gt untuk treking dan bertemu dengan Mina (orang utan legendaris). skrg feeding platform udah gak beroperasi lagi

  • Dulu waktu ke sini ga jadi trekking karena begitu liat bule langsung dicharge pake Euro dan ga bisa ditawar πŸ™ Jadinya cuma ke feeding platform tapi sempet ada orangutan yang nongol sih πŸ™‚
    Seru Bukit Lawang tapi sayangnya banyak yang money-oriented banget di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *